0

Save The Earth: “Reduce Pollution, Tree Planting, and Save Energy

Hari ini, semua orang, dengan serentak, tanpa disuruh pun ramai membicarakan Global Warming—pemanasan global, agaknya ini telah menjadi issue global yang benar-benar mengglobal, Global Warming sedikit demi sedikit mulai menjadi momok yang sangat menakutkan, ini semua bermula dari sejak adanya kemajuan di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dan menjadi hal yang digemari, kenapa begitu? Yah, itulah manusia. Ketika dirinya masing-masing menemukan apa yang mereka gemari, mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka cenderung lupa untuk mengingat alam dan lingkungan tempat mereka berada. Hingga kadang, peringatan dan masukan-masukan baik dan bijak yang selalu keluar dari para ahlinya, tidak bisa jadi benar-benar peringatan yang harus mereka perhatikan, malah agaknya mungkin harus musibah atau bencana alam yang besarlah, yang bisa menyadarkan masing-masing individu itu. Sungguh aneh, saya rasa.

Belajar membaca dan menulis, sudah pasti pernah telah dirasakan oleh sebagian besar para penduduk dunia ini, jangan terlalu jauh melihat negeri tetangga, atau negeri super power Amerika, kita lihat negeri ini saja, hampir dua pertiga penduduk dan masyarakat negeri kita bisa membaca dan menulis juga tentunya. Semua orang bisa membaca, semua orang bisa menulis. Tapi, tak semua orang mau dan sanggup meluangkan waktunya untuk membaca atau memerhatikan lebih jauh dan berkonsentrasi dengan apa yang ada di sekitarnya, dengan apa yang ada di lingkungannya. Lingkungan. Environment. Hanya menjadi bagian dari kata yang akan banyak diperhatikan, setelah kemalangan terjadi, setelah adanya bencana atau musibah yang menimpa sebagian besar orang dalam satu kurun waktu yang cukup lama. Kenapa kita tidak mencegah atau menghindarkan bencana-bencana dan kemalangan itu dari awal? Kita lebih senang menjawab, “Saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak ahli dalam masalah ini. Bukankah ada orang lain yang punya tanggungjawab untuk mengurus semua ini.” Sungguh aneh, saya rasa.

Tanggung-jawab. Kata yang sederhana dan ringan bila diucapkan, namun menjadi satu ungkapan yang sangat susah direalisasikan jika dihubungkan dengan banyak hal yang nantinya akan menuntut hal ini. Kita kadangkala justru hanya bisa lari dari masalah, dan mencoba mengambinghitamkan orang lain, kita sibuk menuduh orang-orang lain, kita sibuk menyelamatkan diri sendiri dari semua kesombongan dan kesalahan yang kita punya. Kita tidak pernah atau mungkin susah untuk mau mengakui kesalahan kita masing-masingnya. Lalu, ketika Global Warming ini menjadi issue global yang benar-benar mengglobal. Siapa yang patut kita salahkan? Kitakah? Atau orang-orang lain di negeri ini dan di belahan dunia yang lainnya?

Memang, kalau kita membicarakan siapa yang salah, atau siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab untuk permasalahan lingkungan ini, tidak akan pernah ada habisnya. Tidak akan pernah ada ujungnya. Solusi yang bisa kita lakukan hari ini dan untuk selanjutnya adalah mencoba sekali lagi (toh kita masih punya kesempatan kan) kembali untuk lebih memerhatikan alam dan memerhatikan lingkungan yang ada di sekitar kita, tak perlu jauh-jauh melihat atau mencoba membantu orang-orang yang ada di belahan dunia lain, lihat kampung kita sendiri, lihat desa kita sendiri, lihat daerah kita masing-masing dahulu, lihat dan perbaiki dulu saja, apa yang bisa kita perbaiki langsung tanpa harus bersama-sama orang lain, tak perlulah menunggu orang lain untuk membersihkan “halaman” rumah kita, ketika kita bisa membuat “halaman” rumah kita sendiri bisa menjadi bersih. Dan saya yakin, sebenarnya jika semua orang yang ada di belahan dunia ini mampu dan punya waktu memerhatikan “halaman” rumahnya sendiri, tak akan lagi ada permasalahan lingkungan yang seperti kita hadapi sekarang. Tak akan ada lagi issue Global Warming, polusi udara, dan kebakaran hutan di berbagai Negara dan tempat di dunia ini.

/1/ Save The Earth: Mencoba untuk stay aware (waspada) dengan teknologi

Kita mencintai teknologi tatkala teknologi itu terasa seperti mainan baru, namun kita membencinya begitu mainan itu rusak. Kita menggembar-gemborkan dan mengoceh perihal teknologi yang merasuki kehidupan kita dari berbagai arah. Kita mencintai teknologi tatkala teknologi itu berfungsi. Kita membencinya tatkala teknologi itu tak jelas, bagaikan buku panduan yang tak pernah dibaca. Kita berbicara perihal acara televisi, berbagai peristiwa yang diberitakan media, dan aneka humor Internet, seolah-olah semua itu kisah hidup kita sendiri. Selama ini, ketakutan ataupun kecintaan kita akan teknologi kerap menjadi landasan kisah film yang kita tonton, buku yang kita baca, cerita di majalah, berita utama surat kabar, dan menjadi pemicu bagi perbincangan yang terjadi kemudian.

Pesan iklan yang tercetak, yang tampil di papan iklan maupun televisi sarat dengan janji teknologi. Teknologi tak henti-hentinya menawarkan cara penyelesaian kilat. Teknologi berikrar akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, membuat kita lebih pintar, dan meningkatkan kinerja kita, dan membuat kita bahagia. Teknologi berjanji akan lebih murah dan lebih mudah daripada segala sesuatu yang pernah ada sebelumnya. Teknologi bersumpah akan menyediakan keamanan, stabilitas, privasi, serta kontrol bagi kita dan sekaligus melimpahkan kedamaian pikiran, dan menjaga kita agar terbebas dari rasa cemas. Teknologi berjanji akan menghubungkan kita dengan dunia luar, namun tetap menjaga kita agar tetap dekat dengan sahabat dan keluarga yang kita cintai. Teknologi merekam dan mengingatkan kita tentang saat-saat kehidupan kita yang berharga. Teknologi berjanji menjadi landasan ekonomi dunia yang baru dan penyeimbang yang kuat. Teknologi berjanji akan memberikan kita kekayaan.

Semua janji teknologi itu terdengar bak buluh perindu. Kita dibuat percaya bahwa semua solusi bisa kita peroleh, cukup dengan membelinya dan menggunakannya saja.

Namun, mari kita lihat sisi lain dibalik issue Global Warming sekarang ini :

Teknologi yang kita punya, ternyata tidak benar-benar menampakkan sisi positifnya, kita tahu semua bahan perusak ozon dihasilkan dan ditemukan teknologinya oleh ilmuwan negara maju. Negara-negara maju telah terlalu lama dan besar volumenya menggunakan lebih dahulu produk-produk perusak ozon daripada jumlah yang dihasilkan oleh negara dunia 3 sejak revolusi industri. Termasuk pruk kimia beracun yang sangat mencemari lingkungan. Bahan pengganti atau proses produksi barang yang tidak menghasilkan zat perusak ozon dan ramah lingkungan lebih mahal dari biasanya. Dunia ke 3 membeli bahan ataupun teknologi-teknologi tersebut dari negara maju tentu dengan harga mahal.

Sampai saat ini industri di negara maju masih memproduksi barang-barang yang berpotensi merusak ozon dan lingkungan dalam skala besar untuk pasar dunia 3, tidak untuk dalam negerinya sendiri.

Dunia Negara-negara maju adalah konsumen hutan tropis paling rakus dibanding dunia ke 3 tempat hutan tropis tumbuh. Termasuk juga konsumsi bahan-bakar fosil. Hutan tropis yang makin gundul mempercepat proses pemanasan global dan penipisan ozon. Bahan-bakar fosil juga demikian. Negara penghasil emisi terbesar di dunia yang juga penyeru global warming, sampai saat ini ternyata masih menolak protokol Kyoto yang mengatur jadwal berhentinya produksi bahan atau barang perusak ozon.

Jika diterapkan ecolabeling sebagai standar impor, maka bahan-bahan atau hasil pertanian dari dunia 3 akan kalah bersaing dengan produk dari Negara-negara maju tersebut, alias tidak boleh masuk, alias tidak laku. Negara maju memiliki agenda untuk menjual kelebihan bahan nuklir akibat perang dingin ke dunia ke 3 sebagai ganti penggunaan bahan bakar fosil untuk energi.

Negara dunia 3 (tropis) memiliki sumber alam yang cukup untuk menghasilkan energi selain menggunakan nuklir. Negara dunia 3 sebenarnya memiliki kewenangan untuk menghentikan ekspor kayu demi global warming. Percaya atau tidak, Negara-negara maju akan menandatangani protokol Kyoto jika kompensasi pembelian dan pembangunan PLTN di negara dunia 3 mencukupi kerugian akibat berhentinya industri penghasil bahan perusak ozon.

Kalau disuruh memilih, dengan kondisi hingga sepuluh tahun ke depan, lebih mudah bagi Negara-negara dunia ke 3 untuk kembali saja hidup ke jaman batu daripada hidup modern dengan standar ecolabeling yang sangat mahal. Kecuali Negara-negara maju mau menyisihkan uangnya untuk meng-kompensasi naiknya harga-harga produk yang telah berstandar ecolabeling dibandingkan produk konvensional.

Negara 3 Dunia ke 3 (apalagi yang berada di khatulistiwa) menerima akibat dari Pemanasan Global dan Penipisan Ozon, juga Pencemaran Lingkungan jauh lebih besar dibanding Negara-negara maju. Sedangkan akumulasi ketiga unsur tersebut sebagian besar dihasilkan oleh Negara-negara maju.

Suatu saat limbah nuklir juga akan dibuang di Negara-negara dunia ke 3, jika negosiasi seperti disebutkan di atas (tentang PLTN) disepakati antara Negara-negara maju dan Negara-negara dunia ke 3.

Kalau kita tidak mati karena kanker kulit akibat menipisnya ozon di negeri kita, kita akan tetap kena kanker karena limbah nuklir di tanah dan laut kita. Kalau bukan kita, setidaknya keturunan kita nanti. Sementara penduduk Negara-negara maju hidup tentram dengan sedikit sinar matahari dan limbah nuklir.

Begitulah teknologi informasi dan komunikasi serta kekuatan industri menguasai kita. Rupanya, kehadirannya bukan lagi sekadar mesin dan besi-besi atau bahan lain di industri yang tak bernyawa. Ternyata, ia telah kita berikan nyawa, kita sisipkan ruh dalam jisimnya sebagaimana layaknya manusia. Dan, diam-diam, kita telah menuhankan dia dalam hati kita, di dalam hidup kita. Kita begitu tergantung dengan eksistensi-nya. Padahal asalnya, teknologi sendiri, konon diciptakan untuk memudahkan manusia. Ia adalah seperangkat mesin yang akan melayani dan membantu kehidupan manusia. Namun, dalam kenyataannya, kaidah ini tidak berlaku. Manusia justru menjadi pelayan dan pembantu teknologi. Sesuatu yang dulunya dibuat untuk kita kontrol dalam kehidupan kita, malah berbalik, ia mengontrol dan mendominasi kita.

Karena terbuai oleh kesenangan dan janji-janji teknologi yang begitu menggiurkan, kita tidak mengindahkan berbagai konsekuensi teknologi dan bertanya-tanya mengapa masa depan tampaknya tak dapat diramalkan. Tidak banyak dari kita yang memahami posisi teknologi atau dimana seharusnya teknologi itu berada dalam kehidupan kita, dalam masyarakat kita, dan yang paling fundamental adalah ialah apakah sebenarnya yang dinamakan teknologi itu. Kita memberi teknologi status yang khusus, seolah-olah teknologi itu adalah hukum alam. Kita memberinya hak yang tak dapat dicabut, yang membuat kehidupan kita sehari-hari, pengalaman formatif kita, bahkan dunia alamiah kita, “diatur” oleh peranti lunak yang kian lama kian canggih.

Teknologi melangkah seiring dengan derap langkah ekonomi kita, sementara kita tinggal mencolokkan steker, tersambung on-line, mesin menyala, mulai bekerja, dan akhirnya menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Kita merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun kita pun tidak bisa menunjukkan dengan jelas apa sesungguhnya yang salah. Sebagaimana dikatakan oleh Marshall McLuhan, ia tidak tahu siapa penemu air, tetapi yang pasti bukan ikan. Manakala kita sudah terbenam begitu dalam, sukar bagi kita untuk melihat dimana kita sesungguhnya berada.

Beruntunglah, kita bukan ikan. Ada seniman, teologiwan, ilmuwan, serta anggota dinas militer, antara lain, yang mengakui dan menyatakan terang-terangan bahwa di satu pihak, teknologi memang mendukung dan memperbaiki kehidupan manusia. Akan tetapi, mereka juga memperingatkan bahwa, di pihak lain, teknologi bisa mengucilkan, memencilkan, mengaburkan, dan menghancurkan.

Dengan mewaspadai teknologi, kita dapat mengevaluasi secara jernih relevansi teknologi yang ada sekarang, dan membangun hubungan yang wajar dengannya. Kita dapat mulai mengantisipasi perkembangan teknologi baru dan memperbincangkan terlebih dahulu kebaikan serta konsekuensi penerapannya, dan dengan demikian kita tidak terlalu mencemaskan masa depan.

Kita memasuki dialog tentang teknologi dengan penuh kesadaran dan sikap mau menerima. Kita akan mulai memupuk kekuatan teknologi dan bukan menampiknya (sebagaimana yang dilakukan oleh kaum teknofobia), atau menerimanya secara membabi buta (sebagaimana yang dilakukan oleh kaum teknofilia).

“Sadar”, demikianlah Buddha menjelaskan keadaan dirinya. Dan akan sangat bermanfaat sekali jika kita mau menyadari berbagai konsekuensi teknologi, yang baik maupun yang buruk. Kita tidak boleh memejamkan mata, menutup telinga, atau membungkam dialog, atau terbuai oleh teknologi. Kita mesti mencoba mengarahkan dunia yang berada di masa globalisasi dan modernisasi ini ke arah yang lebih baik lagi. Agar kita bisa dan mampu menjadi seorang yang dapat bertahan, bersaing dengan kerasnya dunia ini, dan bisa memberi dan mengimplementasikan solusi yang tepat tentang lingkungan yang kita hadapi sekarang, dengan seluruh potensi dan kemampuan yang kita miliki. Potensi dan kemampuan untuk mengubah.

/2/ Save The Earth: “Reduce Pollution, Tree Planting, and Save Energy”

Kita bisa menyelematkan bumi ini, kita punya banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya, menurukan kadar polusi, menanam pepohonan (dan tumbuhan lain), dan hemat energi bisa menjadi awal yang baik untuk semua perbaikan yang akan kita sama-sama lakukan. Kita bisa mewujudkan itu, ingat tidak ada yang mustahil apabila kita punya keyakinan yang besar. Dulu, manusia memang hanya bisa bermimpi akan menginjak bulan, tapi sekarang, jangankan menginjak bulan, kita bisa melakukan banyak hal di satelit bumi yang satu ini. Begitu juga dengan permasalahan yang kita hadapi sekarang, Global Warming, kita bisa meminimalisir akibat-akibat Global Warming ini, dan kita juga bisa membuat keadaan lingkungan yang kita tinggali sekarang, menjadi lebih baik. So, lets Save The Earth with Reduce Pollution, Tree Planting, and Save Energy from right now.
0

In The Name of Friendship


Bismillahirrahmanirrahim

Sahabat…? Wuihhh… kedengarannya asyik banget, ya?! Kata ‘sahabat’ tentu beda banget artinya dengan ‘teman’. Dalam dialektika pergaulan kita saat ini, kata ‘teman’ nggak memuat konsekuensi apa pun dalam sebuah hubungan dengan lawan jenis atau sesame jenis. Beda dengan ‘sahabat’ atau mungkin lebih jauhnya, ‘pacar’, yang dengan status itu, kadang (mau langsung atau kagak), seseorang jadi terikat dengan pasangannya. Katanya, seeeh!

Sahabat, Teman Biasa atau Luar Biasa?!

Beberapa tahun lalu, sewaktu saya masih sangat amat muda, (ehm, sedikit agak berlebihan yah, heu), dulu, saya masih nggak begitu ngeh tentang bedanya ‘sahabat’ dan ‘teman’, saya pikir keduanya sama saja. Tapi, yah, itu dulu. Tapi, sekarang, semuanya sudah menjadi agak lebih jelas dari biasanya (uhuek uhuek…), ‘sahabat’ jauh memiliki beberapa kelebihan tinimbang kata ‘teman’, ‘sahabat’ biasanya memiliki kewenangan lebih yang bisa membuat dia tahu tentang hal-hal kecil yang seringkali nggak diekspos keluar. Dan ‘sahabat’ juga punya tempat dan ruang yang lebih besar di hati orang yang mempercayainya. Hampir nggak jauh beda dengan ‘pacar’, dan malah mungkin kalo dilihat lagi kenyataannya sekarang, ‘sahabat’ sudah menjadi sama dengan ‘pacar’. Benarkah?!

Yang saya tahu, ‘sahabat’ itu jelas bukan teman biasa, karena ‘sahabat’ seringkali mempunyai pengaruh lebih besar, dia bisa mengubah hal yang sifatnya lebih personal menjadi bagian yang bisa dibagi bersama-sama. ‘Sahabat’ layaknya dua mata koin, punya dua sisi yang jelas-jelas punya perbedaan, ada sisi yang positif atau kalo bahasa agamanya, maslahat, dan ada juga sisi yang negatif atau bahasa kerennya, madlarat. (Masak sih? Kayaknya bersahabat itu selalu enak, deh?) Kelihatannya emang begitu, tapi kenyataannya nggak! Karena yang enak itu kalo sahabatnya baik dan ngajak kita kepada kebaikan. Nah, yang nggak enak ya kalo temannya jelek (bukan yang jelek wajahnya, lho, tapi yang nggak baek akhlaknya) dan nularin kejelekan.

Masalah ‘sahabat’ kelihatannya sepele, bahkan ortu zaman sekarang yang nggak peduli anaknya mau bersahabat dengan siapa aja, padahal seorang sahabat itu bisa membawa kita kepada kebahagiaan hakiki, tapi bisa juga menjerumuskan kita kepada kehinaan yang abadi.'

Jangan Salah Pilih ‘Sahabat’

Yuph, betul banget. Kita jangan salah memilih sahabat, kita harus tahu bagaimana dan siapa orang yang harus kita jadikan ‘sahabat’ (Eh, eh. Tapi, bukannya kalo gitu, kita jadinya pilih-pilih temen?! Gimana tuh? Ada diskriminasi dong). Bukannya diskriminasi, maksudnya gini, yang baik-baik kita dekati dan jadikan sahabat, tapi bukan berarti yang jelek-jelek langsung kita jauhi, apalagi kita matiin! Hehe, sadis amat! Bukan begitu caranya, tapi yang jelek tetap kita deketi, hanya saja kita usahakan supaya mereka juga menjadi baik. Ngerti kan? Jangan manggut-manggut aja!

Jadi dalam soal teman, kita kudu berani memilih dan menentukan?

Yuph, that’s right! Teman punya pengaruh luar biasa. Makanya kita harus benar-benar pintar untuk memilih sahabat. (Caranya?!) Ada Hadis Rasulullah yang kurang lebih menyatakan bahwa kalo kamu ingin melihat bagaimana keadaan seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Nah, itu kesatu. Kemudian, yang kedua, ada juga tuntunan agar kita juga betul-betul selektif dalam memilih ‘sahabat’. Dalam sebuah hadis digambarkan bahwa kalo kamu berteman dengan seorang pandai besi, minimal kamu kena percikan bunga apinya, dan itu nggak enak. Tapi, at the same time, kalo kamu berteman sama tukang minyak wangi, minimal kamu akan kebagian wangi-wanginya. Gitu, lho….

Hati Yang Sempurna

Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah. Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata, "Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku?".

Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah?

Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa "Anda pasti bercanda, pak tua", katanya. "Bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan".

"Ya", kata pak tua itu," Hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan.

Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu?"

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, lalu merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat ke dalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir ke dalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.

Open Your Mind!

Mungkin kamu akan sedikit angkat bicara, protes juga barangkali, hehe. Tapi, meskipun begitu, cerita yang saya sampaikan sebelumnya, sebenarnya ingin mengajak teman-teman untuk lebih memahami lagi diri kita, dan bagaimana sesungguhnya kita harus membangun kepercayaan, dan kasih sayang kepada orang-orang di sekitar kita. ‘Sahabat’, sekali lagi, mempunyai peranan yang besar sekali dengan perilaku yang kita punya, karena bagaimana pun hal-hal biasa yang kamu lakukan itu, akan menjadi habit, yang menentukan bagaimana cara kamu memandang sesuatu, dan bagaimana cara kamu menyikapi suatu masalah.

Sekarang, bagian kamu untuk memutuskan, pilihan ada di tangan kamu. Dan, percayailah hati kamu. Coz, your heart will lead you the way! Putuskan yang terbaik untuk masa depan kamu. OK!

–Ditulis oleh Fathan El Kahfi, nama pena dari Teguh Puja Pramadya, contact me in koecing_poeny@yahoo.com
0

Point of Authority; Puncak dari Segalanya!


Kekuatan untuk merubah, ada pada diri kita, dan pada setiap orang yang mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuannya dalam segala hal. Poin terpenting dari perubahan itu, ada di dalam diri kita sendiri, karena tidak ada orang yang lebih jauh mengetahui potensi dan kemampuan yang kita miliki, selain diri kita sendiri.

Mesti kita garis bawahi, jika kita selalu berusaha untuk menunggu tanpa berusaha sedikit pun, untuk mencapai segala sesuatu yang kita inginkan, itu berarti kita (sebenarnya) telah membuka jalan, dan memberitahukan kepada dunia, bahwa kita adalah bagian dari manusia yang paling tak diharapkan ada di dunia ini.
0

Berani Gagal!

Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.
– John F Kennedy


Pernyataan John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup semua orang. Oprah Winfrey, Bill Gates, Donald Trump, mereka adalah bagian dari orang-orang yang berani gagal, orang-orang yang berani mempertaruhkan semua hal untuk menjadi seseorang yang berhasil dan menginspirasi dunia.

Namun, dalam kenyataannya, masih saja ada sebuah ironi yang kita dapat dari lingkungan kita. Masyarakat kita telah diprogram untuk memandang bahwa ‘kegagalan’ itu buruk. Kita hanya melihat ‘sisi kesuksesan’ dari orang yang berhasil dan tidak diberitahu atau ditunjukkan sisi sebaliknya. Karenanya orang beranggapan bahwa mereka yang sukses tidak pernah gagal. Ini jelas salah. Kenyataannya, orang yang berhasil mengalami kegagalan lebih banyak daripada mereka yang tidak berhasil. Ini karena orang yang berhasil cenderung mencoba lebih banyak daripada orang yang tidak berhasil. Karena mereka mencoba lebih banyak, kemungkinan gagalnya juga lebih banyak. Orang yang tidak berhasil, di sisi lain, mudah sekali menyerah setelah sekali berusaha. Beberapa diantaranya bahkan tidak berani mencoba. ‘Gagal’ harus dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah mencoba, kalau tidak bagaimana mungkin ia gagal?

Kita seringkali jatuh hanya karena kita memikirkan dan punya keyakinan yang salah tentang takdir kita. Tidak sedikit dari kita, yang punya keyakinan bahwa ketika kita telah banyak melakukan kegagalan dalam kehidupan dan proses sosialisasi kita di masyarakat, kita tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk tidak seperti itu.

Kita bisa jadi jauh lebih baik dari apa yang dulu pernah kita lakukan, hanya saja yang terpenting apakah kita punya keinginan dan tekad atau tidak untuk berubah. Galileo, orang yang menggetarkan dunia sains dan gereja, pernah berkata, “Bagaimana pun jalan hidup kita, kita mesti menerimanya sebagai anugerah terindah dari tangan Allah. Kita mesti menerima nasib buruk bukan hanya dengan terima kasih, melainkan juga dengan rasa syukur yang tidak terbatas kepada yang Maha Pemberi, yang memberi penderitaan itu agar kita terhindar dari cinta berlebihan terhadap hal-hal duniawi dan meninggikan pikiran kita menuju hal-hal yang Ilahiah.”

Ya, kegagalan yang kita terima adalah jalan dan bagian dari proses untuk kita berintrospeksi, untuk melihat dan mengukur kemampuan diri kita sejauh mana, sekaligus sebagai pengingat kita untuk tidak melupakan satu dzat yang mengatur alam raya dan seluruh isinya ini, Allah Swt.
0

Menikmati Hidup, Yakiniku. Mode : On

Yakiniku (焼肉, daging panggang) adalah istilah bahasa Jepang untuk daging yang dipanggang atau dibakar di atas api. Dalam arti luas, yakiniku juga mencakup berbagai masakan daging sapi, babi, atau jeroan yang dipanggang, seperti bistik, panggang daging domba (jingisukan), dan barbeque.

Daging dipanggang di atas api dari arang atau gas dengan memakai kisi-kisi dari besi atau di atas plat dari besi (teppan). Potongan daging berbentuk segi empat sering ditusuk dengan tusukan dari logam sebelum dipanggang. Sayur-sayuran seperti paprika, bawang bombay sering ikut dipanggang bersama daging. Di rumah makan yakiniku, sesudah dipanggang, daging yang berukuran agak besar sering perlu dipotong dengan gunting di hadapan pengunjung.

Yakiniku sering dikatakan berasal dari masakan Korea seperti bulgogi dan kalbi, dan yakiniku sering disebut BBQ ala Korea[1]. Walaupun demikian, yakiniku di Jepang sering berbeda dengan panggang daging ala Korea antara lain dalam hal saus untuk merendam daging. Kemungkinan besar masakan yakiniku berasal panggang potongan jeroan yang disebut Horumonyaki. Horumonyaki diciptakan oleh imigran Korea di daerah Kansai seusai Perang Dunia II[2]. Istilah "horumon" dalam "horumonyaki" berasal dari dialek Kansai "horumon" (benda buangan) yang digunakan untuk menyebut jeroan. Perbedaan yakiniku dengan bulgogi atau kalbi telah menjadi sangat kabur, karena keduanya juga disebut "yakiniku" di Jepang.

Di rumah makan yakiniku, pengunjung memilih sendiri daging mentah yang diingini, satu per satu menurut jenis atau satu set daging di dalam piring. Pengunjung rumah makan dipersilakan memanggang sendiri daging tersebut. Alat pemanggang daging ada di meja pengunjung, dan bisa berupa alat pemanggang daging dengan sumber api gas atau arang. Sebelum dimakan, daging dicelup ke dalam saus yang disebut tare. Saus ini dibuat dari campuran bahan-bahan seperti kecap asin, sake, gula, bawang putih, dan wijen. Selain itu, yakiniku sering dinikmati dengan garam, merica, dan air perasan jeruk lemon. Yakiniku dimakan dengan nasi putih, sedangkan makanan khas Korea seperti kimchi, nameul, bibimbap sering dihidangkan sebagai makanan tambahan.
Ada saat yang begitu menyenangkan, ketika beberapa hari terakhir menikmati Yakiniku. Benar-benar menikmati hidup. Awalnya, jujur saja, saya tidak mengetahui 'dengan pasti' bagaimana tata caranya makan di restoran Yakiniku, saya hanya tahu bahwa apa yang akan saya makan, adalah makanan-makanan mentah yang nantinya saya panggang atau saya rebus dulu dalam kuah ayam atau di satu campuran yang lainnya, saya lupa namanya. Hehe.

Saat-saat saya masuk pertama kali ke Yakiniku, bisa dibilang, saat-saat yang begitu bodoh, betapa tidak, saya dengan teman-teman saya yang lain, tidak begitu memperhatikan banner yang ada di depan Yakiniku ini (yang nantinya akan membuat kami merasa begitu idiot melewatkan satu hal ini).

Setelah masuk di Yakiniku, dan dipersilahkan untuk mengambil tempat duduk. Awalnya kami ingin untuk memilih tempat duduk yang menjorok di samping Yakiniku, tapi karena merasa tidak nyaman, akhirnya kami memilih tempat lain, dengan mode lesehan, dengan luas sekitar 2 x 3 meter, cukup nyaman untuk 'menyembunyikan kebodohan kami' yang memang tidak tahu apa-apa. Hehe.

Awal yang buruk untuk memulai sebuah kenikmatan hidup, hehe. Kita semua diam, dan hanya manggut-manggut ketika ditawari pilihan kuah apa yang akan kami gunakan, dan akhirnya kami setuju memilih kuah ayam.

Semua persiapan untuk memulai 'kenikmatan hidup' ini sudah ada di depan kami. Namun, jujur, setengah jam pertama, kami semua bingung, diam, dan mulai saling meminta yang lain untuk bertanya bagaimana memulai makan di Yakiniku. Saling tunjuk-menunjuk. Hehe. Sumpah, idiot!

Untung tidak ada yang begitu memperhatikan kebodohan kami. Tapi, terjebak di tengah gurun kebodohan ini, benar-benar membuat kami hopeless. Kami tak menyangka, kenyataan yang kami dapat seperti sekarang. (Halahh)

Setelah 30 menit pertama habis, setelah semua orang saling menunjuk masing-masing, akhirnya saya dengan Rouf, mulai mencoba mempertaruhkan muka kami. Kami membawa satu piring kecil masing-masing, membawa beberapa rosu (daging bagian perut yang berlemak) dan karubi (daging iga tanpa tulang), udang-udang kecil dan sedikit sayuran.


http://asiajin.com/blog/wp-content/uploads/2009/02/air_yakiniku.png

Yakiniku

http://www.kobebeef.co.jp/imgs/yaki/yakiniku.jpg

http://www.japannewbie.com/images/journal/tsuruhashi_yakiniku/tsuruhashi_yakiniku1.jpg

Terjebak dalam keadaan yang membingungkan seperti ini, ternyata tetap tak membuat kami menyerah. (Lagian, kami memang tidak seharusnya menyerah, hehe). Kami belum makan apa-apa, setelah sekian lama ada di tempat ini.

Moment of Change

Mungkin memang sedikit agak berlebihan, hehe, tapi tak apalah. Karena kenyataannya, setelah kami (saya dan Rouf) berjalan keluar dari tempat 'persembunyian' kami, kami mulai berjalan menghilangkan keraguan yang ada, kami (bagaimanapun) harus tetap bisa makan, hehe, dan menempuh perjuangan kami dengan sukses. Kami harus bisa 'mempertaruhkan' harga diri kami untuk bertanya bagaimana dan berapa yang harus kami bayar untuk makan disana (mungkin terlihat sepele untuk temen2 yang baca ini, tapi, jujur, berat buuu).

"Mbak, mbak. Saya mau tanya, kalo disini gimana, ya, mulainya? (Aduh,,) Maksud saya, bentuk paket-paketnya kayak gimana, heu.. (nyengir abis..)?" Akhirnya dimulai juga pertaruhan harga diriku. Hehe.

"Oh, begini, lho, mas. Disini kita punya paket makan sepuasnya, dan semuanya bisa mas dapet dengan bayar 60 ribu kurang lima ratus, hehe."

Ehm, ehm. Gilaa, ajipph bener. "Oh, gitu, ya, mbak. Kalo misalnya gini bisa nggak Mbak? Yang ngambilnya cuman dua orang, tapi yang dua lagi ikut makan. Hehe."

"Maksud mas?"

"Maksudnya, gimana kalo kita ngambil paketnya buat dua orang aza, tapi semua temen saya juga ikut makan."

"Oh, maaf mas. Nggak bisa, kalo misalnya temen mas ikut makan, walaupun cuman sedikit, cuman satu kali makan dari yang mas ambil, mereka juga harus ikut bayar. Gitu, lho, mas."

"Hehehe. Nggak bisa ya mbak. Ya udah, bentar deh, mbak. Saya mau diskusi dulu bentar neh."

Ajiipph daah. Akhirnya, dengan wajah yang nggak karuan, setelah denger penjelasan si Mbak. Kita berempat rembug.

All YOU Can Eat

Jika berbicara tentang kenikmatan hidup. Siapa pun pasti menginginkan kenikmatan itu tidak hilang dalam waktu sekejap. Kami rasakan itu. Dan, setelah tahu.. bahwa untuk menikmati hidup itu tidak gratis dan murah. Akhirnya, kami pun tetap menjalankan niatan kami yang sebelumnya. Kami ingin menikmati hidup.. hoho,, Yakiniku.. (on your mark.. game set: FIRE!!)

Akhir cerita, kami menghabiskan 240 ribu untuk 4 porsi 'ALL YOU CAN EAT', dengan kurun waktu kurang lebih 2 jam di Yakiniku. Menikmati semua yang ada, mencoba tak menyia-nyiakan kesempatan menikmati hidup dengan cara yang anyar, dan mulai untuk mensyukuri pengalaman hidup yang baru.

Mau mencoba menikmati hidup?! haha,,

1

Dream




The number one question that exists in life is: what is my purpose; what did I show up here to do? Questions such as: “How do I find my way?” plague the internal dialogue of countless people.

Life responds to commitment. A person who wants to accomplish something without taking measures to make it happen will remain in a state of want. However, a person who desires to accomplish something, and is taking measures to activate, and not contemplate, their destiny will always find their way.

This is our truth, and the explanation for our existence. When we make a commitment to live our truth and take the necessary measures to make our inner-vision our outer-reality, the way will appear.

The way has no need to appear if we have not made a wholehearted commitment to our dreams! The way is the mediator between us, and the actualization of our dreams. When we find the way, we are poised to live our truth.

Never be afraid of life transitions, because the way will always appear just as it has done in the past. As the seasons change, our commitment to pursue what is in our heart will give us an awareness of our path. As we live our truth, find our way, and reveal our light, we are empowering ourselves, and the others, to live a life of truth.

Everyone has a dream in life, but the "how" and "when" of how it will ever happen keeps a person dreaming instead of realizing his or her dreams.

Journey to Life Purpose

Does each of us have a life purpose? Is there such a thing as right livelihood? What does it mean to live a purpose-driven life? Is it possible to love what you do and have others pay you well to do it?

The first three questions may be too esoteric and your initial response to them may be “No.” However, the last question may seem more palatable. Yet, all four questions speak to the same desire. The desire is to live a life that is joyous and abundant in every area, especially in our career path. It is the age-old question posed to all children, “What do you want to be when you grow up?”

In Paulo Coelho’s extraordinary classic novel, The Alchemist, he refers to this desire as our Personal Legend. Coelho describes our Personal Legend,

“It’s what you have always wanted to accomplish. Everyone, when they are young knows what their Personal Legend is. At that point, in their lives, everything is clear and everything is possible. They are not afraid to dream, to yearn for everything they would like to see happen to them in their lives. But, as time passes, a mysterious force begins to convince them that it will be impossible for them to realize their Personal Legend.”

For me, the “mysterious force” was not very mysterious but surely, it was powerful. The unconditional love for my parent and for someone that I love was that force. When I came to their bright-eyed and full of hope announcing, “I am going to be a professional writer when I grow up!” Their responses were “You better grow up and get your dream.”

As I worked my way through school, which force grew in its intensity and power as well-meaning teachers echoed my love for all that I know. Soon, I shifted my focus from creative writing to journalism: a more acceptable and respectable aspiration in the eyes of the grown-ups in my life.

All through college, I tried to convince myself that I wanted to be a journalist. While all along inside of me, a battle was raging as I longed to be more creative with my gift of writing.

A series of significant events transpired that finally got me back on track to pursuing my dream a being a creative writer. Those events were the moment I was disappointed with my failure in going abroad to United States of America—exactly, Cincinnati, Ohio—because of my illness; and then the moment I found someone that really loves me, accompanying me for almost nine months of my illness until now.

It was funny that as children we simply follow our hearts and gravitated towards the activities that made us happy. When children think about the future there is little fear or worry. We believe we can have what ever we dream. Until some well-meaning grown-up who knows better steers us in a different direction or stop us all together.

Many nights we have prayed
With no proof anyone could hear
In our hearts a hope for a song
We barely understood

Now we are not afraid
Although we know, there is much to fear
We were moving mountains long
Before we knew, we could

There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it is hard to kill
Who knows what miracles you can achieve?
When you believe, somehow you will
You will when you believe

In this time of fear
When prayers so often prove in vain
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flown away

Yet now I am standing here
My hearts so full I cannot explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I would say

There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, it is hard to kill
Who knows what miracles you can achieve?
When you believe, somehow you will
You will when you believe

They do not know it is often when you ask
And it is easy to give in to your fears
But when you are blinded by your pain
Can't see your way straight through the rain
Boy, am I still resilient voice
Says love is the relief
There can be miracles
(Miracles)
When you believe
Though hope is frail
It is hard to kill
Who knows what miracles, you can achieve
When you believe, somehow you will
Somehow, you will
You will when you believe

You will when you
You will when you believe
Just believe... in your heart
Just believe
You will when you believe

(Mariah Carey - When You Believe)
My Experiences, My expectation, and Me

I started to dream, I started to open my mind. When I got chance to register in Youth and Exchange Study (YES) that programmed by American Field Service (AFS) and Yayasan Bina Antarbudaya, for those people which have leadership skill, and have big motivation to make a peace in the whole world.

I really loved the way of these selections, I passed many test, such as writing an Essay about ‘Dream’, English writing test, team-management, interviews, SLEP test and so on. These were my step stones to go to National Selection and National Orientation.

I have passed the entire test well. I really loved the chance in my national selection, in Wisma Handayani, South Jakarta. I have spent tree days for this national selection. The first day, was totally the unforgettable one. We did the team-management again, divided into many groups, and should share all of our own ability and idea.

“River of Life—Sungai Kehidupan” is the first agenda. We should share with all people in the group, started from all of our own experiences, and the things that have changed us become better than previously.

In this forum, in this agenda, I have met with the one of returnee from AFS Belgian, and some delegation from the other chapters, such as from Bogor, Depok, and Jakarta. Included me, I was the one from five people that have been chosen in West Java, in Bandung chapter.

I shared my experiences here, told that I have ever led two communities in my Islamic Boarding School, Darul Arqam, the one of them is ‘Leader Class’; I and my friend, Kurniaddin Mahmud, were the founding father of this community, we gave the leadership training and many learning strategies to all the participant. We did it every Wednesday’s night, from 9 p.m. until 12 p.m. We focused to learn together with the members of the second grade in Junior High School. We prepared them to be the leader for themselves and for their families.

Then, the last one is PENA; in this community, we shared all of our own ability in writing, training them to be able to give and express their thinking. Dakwatu’l Islam bil qolam, was the reason why I made this community.

Definitely, I really loved the discussion, telling them about my unforgettable moment and something that has changed my life. I told them, “I was not a clever student; I was just someone that really wanted to be different. I really wanted to do my best, show my ability, share my idea and I did not want to be someone which is always under-estimated by people. Three years in Junior High Scholl were not the good one—I always cried everyday, under-estimated, and I did not have a free space to explore my mind.”

Pain can be the reason why people change—we certainly learn through painful mistakes and adjust our behaviors accordingly. For example, receiving bad grades in School make us realize that we need to study more. Debts remind us of our inability to earn a sufficient income. It may be a bitter experience, a friend’s tragic story, a great movie, or an inspiring book that will help us get up and get on with life again. All it takes is just the right amount of motivation for us to want to improve ourselves, right?

“Then, I had time to show up my ability. Nevertheless, I should leave FIKIR (Forum Interaksi Kajian Ilmiah Remaja)—which has the same time with the date for me to represent my essay in Bandung. I was confused for deciding, whether I had to go or not, one day before FIKIR, PW IRM Jawa Barat has chosen me as the finalist in the essay competition.”

It was hard to stay motivated and wanted to improve ourselves with the countless negative experiences that we had but it was possible.

“In the next day, I decided to go. Although, FIKIR was my class’s event, but I had to. I left it and then went to Bandung.”

Believe in ourselves and in what we can do. We are all capable of greatness.

“I believed in my self at that time, I prefer to struggle for representing my essay and won the competition than stay in FIKIR, and got nothing.”

Then, someone in my group asked me. “So? What did you get?”

“Alhamdulillah, I won this competition. Although, I was not the winner, I got the third position, and actually, it was my first step to change.”

Consider things from every angle and on every aspect. Motivation comes from determination. To be able to understand life, we should see both sides of any situation.

Do not give up and do not give in. Enjoy. Enjoy our life in every aspect, from school to social situations. Motivation takes place when people are happy. Family and Friends – are life’s greatest treasures. Do not ever lose sight of them.

Keep trying no matter how hard life may seem. When a person is motivated, he will see that the trying times are leading to self-improvement. Learn to love ourselves. Those closest to we do.
Open our eyes. People should learn things in two ways—how they want things to be, and how they should be.

Practice makes perfect. Practice is about motivation and let us learn ways on how can we recover from our mistakes.

Quitters never win. Moreover, winners never quit—an old but very true saying. So, choose your fate—are you going to be a quitter? Or a winner?

Understand others. We know how to talk, but we should also learn how to listen. Moreover, check you have heard correctly, not what you want to hear or think you have heard.

We are unique. No one in this world looks, acts, or talks like us. Value our life and existence, because we do not get a rehearsal.

Zero in on our dreams and go for it!

Having discussion for one hour, we went back to our rooms, and preparing for the next agenda in that night.

In the night, we went back to the Auditorium, continuing our agenda. Then, we did team-management again. “Moving water” was the name of this event; we should have a good teamwork, creative thinking, and responsibility to manage all of the concept and strategies to win the game.

In the next day, it was Friday, then the committee divided me and the other participants into two shifts, and I have gotten the first shift—in the morning—for doing interview. The interview became so different, because I met with the chief of Yayasan Bina Antarbudaya, and the others. It was interesting to do the interview, asked about what I should do, were I in United States of America, and what my motivation to join with this program was. Then, asked what kind of thing, which I would do for Indonesia.

Saturday was the last day for me to do the national selection, the agenda for that day was SLEP test, which has purposed to measure the level of my own ability in using English, and for knowing what class that I should enter in USA.

National Selection was the bridge and my stepping-stone for me to get the scholarship and go abroad for a year, and I was sure that I have gotten many experiences, many friends, and totally my dream. I wanted to be an ambassador, going overseas, and sharing all my idea to the world.

There were countless reasons why I wanted to be an ambassador.

Gain a new perspective on my own country

Immersed in one country tends to give us a limited view of our world. Traveling outside the country will show me how America and the other countries affect and fit into all of humanity. From the vantage point of someone else’s culture, I can truly see my own. By exposed to so many diverse traditions, I will understand the significance of keeping my own traditions alive.

The American anthropologist Margaret Mead said, “As the traveler who has once been from home is wiser than he who has never left his own doorstep, so a knowledge of one other culture should sharpen our ability to scrutinize more steadily, to appreciate more lovingly, our own.” I may come to a better understanding of how I as an individual fit into this world. Learning about my own country by living abroad remains extremely relevant today as I continue to further our understanding of other cultures.

Explore my heritage

Getting in touch with my family’s heritage can be another strong motivation for me to be an ambassador. Many minority students report tremendous educational and personal benefits from exploring countries where their families have roots. Studying and going abroad can provide me with an opportunity to learn about my own ethnicity and to explore my own identity.
Learn a language in a country where it spoken

The only way to become truly fluent in a language is to immerse in it. If I have studied a language for several years and wish to gain fluency in that language, study abroad.

Conversely, if I have not studied languages at all, remember that almost half of all Study Abroad programs do not require any foreign language. Learning a foreign language will increase my educational development, improve my communication skills, and give me a world of opportunities I might not otherwise have. Knowing another language will help me to appreciate international literature, music and film, as well as to understand better the culture I live in.

As I learn a different language, I will also come to know more of my own, as Johann Wolfgang von Goethe once said, “Those who know nothing of foreign languages, knows nothing of their own.”

Gain new insights and outlooks through new relationships.

The relationships formed while studying abroad might become some of the deepest friendships I will ever develop. I will have the opportunity to meet people from different backgrounds and cultures, and some of these people may even become life-long friends. Study abroad returnees often report meeting others with whom they expected to have no common ground, and then discovering that, despite being from different parts of the globe, they have much in common and much to learn from one another. These relationships, insights, and outlooks are a critical part of the study abroad experience. I will network with fellow students, teachers, host families and professionals. Oftentimes my best opportunities will come from whom I know.

Then, after two months waiting for the confirmation from AFS and Yayasan Bina Antarbudaya, I got surprising news, which told that I had to make passport and should prepare to go to United States of America’s Embassy for asking Visa and I should fill a form for International Selection, competing with the entire participant from the other countries.

In that form, I should make the letter for my host-family in United States of America, introducing who I am, and telling them what make me different from the others.
This is my letter to host-fam
When I had finished my elementary school (6-year study), I had to live a part from family due to further study in secondary school level. I do not feel regretful although I have to stay in school dormitory for almost 6 years. This school encouraged me to be independent, in the sense that I have to organize my daily life such as washing my own clothes, reviewing any lesson, managing the time and conducting my social life with all my class, and schoolmates. I feel more natured comparing to other student who study at public school. In addition, I also have to study hard due to more numbers of the subjects to learn at this school. I have to study 29 subjects for both general and religious subjects. It means that I have been accustomed to studying from early in the morning [5.00 a.m.] to late in the evening [9.00 a.m.].

Due to fully scheduled activities at my boarding school, since almost five years ago, I only have once a month to see my parents at home. If I have a problem, I usually consult them through telephone. I still need them to talk to, although I have a class counselor at school. If miss my all family members, I sometimes invite them to come to my boarding school. If I have an opportunity to stay at home, my parent always, ask me many questions dealing with religious subjects at school, then they also wise to me to guide my sisters in understanding actual Islamic tenets in accordance to modern life.

Since I believe that studying is not only gained in the classroom, I also involved in school organization in which I learn how to work in a team, to organize extra-curricular activities and to develop my view in accordance to various activities such as sports, art, leadership, and non-formal education that support to the success of inter-curricular objectives. By this involvement, I really expect that this experience will be useful for me in facing the future “real life” in a community.

In relation to my participation in YES (Youth Exchange and Study)/ AFS program, I hope that my skill and my ability in coping with new circumstances handled through my basic experience in dealing with the perspectives of cross-cultural understanding. I have been accustomed to it, since my schoolmates are from different parts of cities in Indonesia with their different cultural background. I feel quite easy to adjust with various conditions by which I can learn.

Although the adjustment process takes time, I can overcome this by understanding that different cultural and educational background may affect someone is attitudes and behavior. Then, through direct contact and communication, I can adapt new atmosphere sooner.

Based on the description above, I really expect that I can improve and broaden my perspectives in relation to my education in Islam and general subject. I think, I want to be a scholar or an agent in improving the quality of education in the future.

Teguh Puja Pramadya


Bad News

The committee from Yayasan Bina Antarbudaya and AFS Intercultural program told that every participant in YES scholarship, had to check their own healthy.

Actually, I did not ever have negative thinking about my healthy, because I never had something that disturbing my activities before, but after all medical check-up, I got a bad news, the doctor punished me that I had Tuberculosis, and it took much time to heal the sickness. I lost confident at that time, how could it happen?

Then, the doctor also said that it took minimally six months to heal the sickness. I did not know what I should do, because the next agenda, National Orientation and the departure to USA will be held in next month. In spite of like that, the doctor said that I still could go to USA and having the scholarship. I was happy at that time, ‘Alhamdulillah’, because not knowing what will be happened.

National Orientation

It was July; I had to finish the last event with doing the national orientation in Jakarta. In the first agenda in Jakarta, everyone should tell their own health’s condition, whether it is good or not. Actually, at that time, I had lost my confident, knowing that I was not well-enough. Having told my health’s condition to the committee, the committee told me to meet with Dhiah Karsiwulan, she was the secretary of Yayasan Bina Antarbudaya.

Having met with Miss Dhiah, she told me to check my own health’s condition again in the hospital, which is located in Jakarta, just to make sure, because she said, “We always found someone that has condition like you, and sometimes, someone who is in the first got ‘TB-positive’, after checking their own health’s condition again, got ‘negative’. Who knows?”
Then, in the next day, I did the medical check-up again, in the Gandaria’s Hospital in Kebayoran Baru, South Jakarta. The internist who checked my health’s condition told me that I had to go back and give the sample along three days, and I would get the last result of my health’s condition in the end of medical check-up.

This medical check-up made me had to go back repeatedly from Depok to Jakarta along three days, it was hard for me, whether I had realized or not, I felt disturbed by my health.

While I did the medical check-up along three days, all the participant was doing the national orientation, going to some places in Jakarta, taught how to do Western lunch, and preparing for farewell.

In the end of the medical check-up, definitely, I have gotten ‘negative’ for my TB, I was happy by knowing that, but after telling this to the committee.

The committee from Yayasan Bina Antarbudaya and AFS Intercultural Program advised me not to go, looking after my health’s condition at that time. If I had to go, I would get problem, because the departure was in August, and in the USA, it was winter.

After all, actually, I was disappointed. Nevertheless, I believe in God, I know that Allah always give the best thing for me, I would get many experiences and many understanding. I know that whosoever got the failure, they would get their success later, right. ^_^

Farewell

Knowing that I was failed, it did not make me down for so long. I remembered what Ralp Waldo Emerson had said, “Every adversity, every unpleasant circumstance, every failure, and every physical pain carries with it the seed of an equivalent benefit”. However, it made me strong.

Then, I asked to the committee, for going to Farewell. The farewell was located in Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), I was happy got the invitation. At least, I still had chances to look at all my entire friend that had the scholarship.

In this farewell, I met with all the AFS returnees, and one of them is Taufik Ismail. He opened the farewell by reading his poetry about his journey to USA in front of the entire guess. It was interesting, and healing my feeling at that time. ^_^
0

Unconditional Love

щ Unconditional love is a term that means to love someone regardless of one's actions or beliefs. It is a concept comparable to true love, a term that is more frequently used to describe love between lovers. By contrast, unconditional love is frequently used to describe love between family members, comrades in arms and between others in highly committed relationships. щ

It has been 19 years since I was born and grew up under your care. First, I want to say that I really appreciate everything you did for me. I am thankful that you are not only my parents but you are also my irreplaceable friends.

Since I was young, every time I got into trouble by my stubbornness you were always there to support me and give me the right advice. I know that without listening to you, I would not be able to grow up to be an adult like today.

I love you. In my own way, but I do.

I love you, for all your kindness, for everything that you have given to me. I knew not to be afraid, because your hand was always there for me to grasp. I knew if I ran too fast, you would follow to help me up if I stumbled and fell. Your love has always been constant, even now, as I stand on my own. Are you proud? I am—of all you taught me. I am where I am today because of your love, encouragement, and a little nudging towards the right direction.

I love you.

You never uttered those words, "I told you so," but let me learn lessons on my own. I can handle challenges; I can face crisis; I can be confident in who I am. Thank you, Mom and Dad.

How did you know what to do? How did you know the words to say? I know your love for me guided you, but I cannot imagine it was ever easy to let go and allow me make my own mistakes—but those were the best-learned lessons. Your wisdom in certain situations did not separate us but brought us closer together. I hope I can use all that you have taught me with my own family later.

Thank you for your love, confidence, and guidance.

In the name of Allah, for His Love

Dear Mom and Dad,

As I got older, I said the words I love you less and less. I guess it is a child's way of becoming independent. The truth is that I love you and never any less but always more.

I know you know, but I wanted to tell you anyway. I can never repay you for all you did to raise me. There are sacrifices unnamed that children never realize until they are grown. The cost was never a question with you. You just gave and gave so that I might be what I am today.

I thank you for who I am. You have taught me many things, but the greatest of these is unconditional love. Your strength and encouragement are models for me. I realize that no matter what I do or dream, I can always go to you and that you will be supportive.

Forgive me if I have not told you enough, but always remember that I love you.

Your son,

Teguh Puja



It is almost nineteen years; I stand here, facing my entire problem of my life. Many things that happened, I have grown up until this point, being mature.
Still I wonder how I could pass this entire kind of thing. Nevertheless, I thank to Allah for his Love, for His given, I have to appreciate it with doing my best. I am going to be someone that able in giving many advantages to the others. I will start changing my self, trying to be better, taking some self-improvement.



µ More than Words

Saying I love you, are not the words I want to hear from you. It is not that I want you. Not to say, but if you only knew. How easy it would be to show me how you feel. More than words are all you have to do to make it real.

Then you would not have to say that you love me. Because I would already know, what would you do if my heart were torn in two? More than words to show you feel that your love for me is real. What would you say if I took those words away?

Then you could not make things new. Just by saying, I love you. More than words, now I have tried to talk to you and make you understand. All you have to do is close your eyes and just reach out your hands and touch me. Holds me close do not ever let me go. More than words are all I ever needed you to show.

I really love my parent; I want to do my best. I want to be someone that can make them proud of me. Although, definitely, I know that I cannot bring back all that they have given to me, all of their love, their affection, and their material for guiding and teaching me until now.

I proud to be your son, it is honor to be someone that you love. I hope I can make your entire dream come true. Thanks for your pray, it makes me strong, and it makes me confident.

My family is the best thing in my entire life! Cannot even begin to imagine a day without them! Thanks are to God for allowing me to be a part of such a wonderful family!


µ My Sister

HEHE. I just have one sister; her name is Retno Puji Pratiwi. She was born in Tasikmalaya in November 15 1995, when I was five years old. For me, she is gorgeous, unique, and different. Then, I love her. She is still a student in Junior High School, on second grade.



Did you know that at one time I was afraid of the thunder? Or were you aware that I trembled whenever a cold wind would blow? Then again, the darkest nights would make me shudder - all because I did not know of your feelings for me.

Now I spend my days being warmed in your love. My nights are no longer the dreaded hours, but they are the anticipated moments of the delights in your embrace. Your smile dispels all my fears and I find my heart secure within your soul.

I pity those that know not of such yearnings. How sad for those who do not have a love to share. I know that true love is a rare gift. I am among the fortunate because you have offered me this priceless gift. There is no other who could mean more to me than you.

Thanks for all, my family.

0

Let Us Open to Criticm

Membuka Dialog Diri

Kemajuan peradaban selalu menawarkan ruang dialog untuk mencegah terjadinya konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan konsep atau persepsi. Ruang dialog itu dimaksudkan sebagai upaya menjembatani kompromi (kesepakatan sinergis) dari gap atau perbedaan. Adakalanya kita harus menyempatkan diri kita untuk sejenak berintrosfeksi, mencoba melihat kembali kualitas diri kita, dan menemukan hal-hal yang sekiranya negatif atau kurang baik dari diri kita, untuk diperbaiki dan dipoles kembali dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk kita.

Membuka dialog diri, sangatlah penting untuk kita lakukan, karena dari waktu ke waktu, kita akan menghadapi banyak persoalan dan masalah yang mungkin bisa membuat kita jatuh dan kehilangan semangat, dengan membuka dialog diri, kita bisa merumuskan langkah-langkah apa yang akan kita ambil dan tetap bisa bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan yang kita temukan.

Isi Dialog
Tak ubahnya seperti dialog yang terjadi antara RI & GAM. Di dalam dialog-diri harus tercipta situasi tanya jawab tanpa konsekuensi pada judgment. Tanya jawab itulah yang sering dikenal dengan istilah self questioning, yaitu upaya menyodorkan sejumlah pertanyaan kepada diri kita. Telah sejak lama diakui, pertanyaan memiliki implikasi psikologis tertentu yang dapat digolongkan menjadi implikasi killer (pembunuh) atau implikasi miracle (mukjizat). Perbedaan keduanya, implikasi killer diperoleh dari pertanyaan destructive yang mengarah pada jawaban tanda seru (self-defeating), irrational thinking model untuk mendatangkan masa lalu, atau IF – clause thinking dalam menyikapi masa depan.

Untuk memahami lebih jauh tentang pertanyaan yang mengandung implikasi killer adalah ketika orang bertanya kepada dirinya (sadar / tidak sadar): “Kenapa saya dilahirkan tidak seberuntung orang lain?”. Kata ‘kenapa’ di sini tidak memiliki jawaban yang rasional. Selain itu, ‘kenapa’ malah menambah rasa putus asa, powerless, hopeless, dan dapat membunuh proses nalarisasi, ekplorasi-diri untuk menemukan keunggulan. Pendek kata, killer adalah pertanyaan yang jawabannya tidak mendorong kita untuk meraih solusi atau mendapatkan potret definisi-diri yang lebih baik dan lebih maju. Pertanyaan itu bisa berbentuk variatif yang secara tidak sadar telah kita jadikan acuan / pedoman hidup.

Lebih-lebih kalau pertanyaan itu diambil dari pernyataan/ungkapan orang lain yang berbau pengadilan negatif tentang diri kita. Rasanya seperti tulisan yang terukir di atas batu. “The most damaging phrase in the language is, it’s always been done that way”, kata Grace Hoper. Perkataan itu menggambarkan seseorang yang bertanya kepada dirinya/orang lain tentang sebuah maksud tertentu, lalu mendapat jawaban tanda seru: “Sudah pernah dilakukan dan hasilnya gagal!”

Implikasi miracle diperoleh dari pertanyaan membangun yang akan mendatangkan jawaban untuk menarik solusi. Kalau orang yang mengalami kegagalan lalu bertanya kepada dirinya, “Tindakan apalagi yang lebih cerdas untuk dilakukan”, maka pertanyaan itu memiliki bobot psikologis yang mendorong orang tersebut untuk menjalani eksplorasi dari apa yang sudah diketahui atau belum diketahui (evolusi-diri). Umumnya, para pencipta prestasi besar dan kecil di alam raya ini tidak dapat dipisahkan dari upaya mengasah kemampuan mempertanyakan sesuatu untuk menjalani langkah inovatif dan kreatif.

Membuka dialog diri yang kita jalani dengan melakukan tanya jawab tentang kita dan dengan kita (self questioning) selain dapat mencairkan kebekuan dan memperkokoh definisi, pun juga dapat mempertajam kontrol-diri di mana kita akan secara otomatis dididik oleh kebiasaan untuk mengganti muatan negatif menjadi positif, atau melawan muatan negatif supaya kalah, atau membuat affirmasi muatan positif. Sayangnya, kita dan sistem sosial yang kita masuki cenderung berorientasi pada jawaban. Kalau kita ditanya mengapa kegagalan menimpa, maka hampir dapat dipastikan jawabannya adalah menyangkut ketersediaan modal/alat. Memang jawaban tersebut tidak berarti salah tetapi ada logika hidup yang hilang di sini. Ketersediaan modal (perangkat) adalah jawaban pencapaian (achievement) dari pertanyaan yang mendorong seseorang untuk meraihnya. Kalau pertanyaannya justru menutup, menghalangi, tanda seru, maka jawaban itulah yang akan menjadi pertanyaan dan membentuk lingkaran setan pertanyaan. Kalau kita renungkan, ternyata jawaban dari seluruh persolan hidup yang kita miliki sekarang ini adalah hasil dari pertanyaan yang kita ajukan di masa lalu. Selamat merenungkan.