Hari ini, semua orang, dengan serentak, tanpa disuruh pun ramai membicarakan Global Warming—pemanasan global, agaknya ini telah menjadi issue global yang benar-benar mengglobal, Global Warming sedikit demi sedikit mulai menjadi momok yang sangat menakutkan, ini semua bermula dari sejak adanya kemajuan di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dan menjadi hal yang digemari, kenapa begitu? Yah, itulah manusia. Ketika dirinya masing-masing menemukan apa yang mereka gemari, mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka cenderung lupa untuk mengingat alam dan lingkungan tempat mereka berada. Hingga kadang, peringatan dan masukan-masukan baik dan bijak yang selalu keluar dari para ahlinya, tidak bisa jadi benar-benar peringatan yang harus mereka perhatikan, malah agaknya mungkin harus musibah atau bencana alam yang besarlah, yang bisa menyadarkan masing-masing individu itu. Sungguh aneh, saya rasa.Belajar membaca dan menulis, sudah pasti pernah telah dirasakan oleh sebagian besar para penduduk dunia ini, jangan terlalu jauh melihat negeri tetangga, atau negeri super power Amerika, kita lihat negeri ini saja, hampir dua pertiga penduduk dan masyarakat negeri kita bisa membaca dan menulis juga tentunya. Semua orang bisa membaca, semua orang bisa menulis. Tapi, tak semua orang mau dan sanggup meluangkan waktunya untuk membaca atau memerhatikan lebih jauh dan berkonsentrasi dengan apa yang ada di sekitarnya, dengan apa yang ada di lingkungannya. Lingkungan. Environment. Hanya menjadi bagian dari kata yang akan banyak diperhatikan, setelah kemalangan terjadi, setelah adanya bencana atau musibah yang menimpa sebagian besar orang dalam satu kurun waktu yang cukup lama. Kenapa kita tidak mencegah atau menghindarkan bencana-bencana dan kemalangan itu dari awal? Kita lebih senang menjawab, “Saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak ahli dalam masalah ini. Bukankah ada orang lain yang punya tanggungjawab untuk mengurus semua ini.” Sungguh aneh, saya rasa.
Tanggung-jawab. Kata yang sederhana dan ringan bila diucapkan, namun menjadi satu ungkapan yang sangat susah direalisasikan jika dihubungkan dengan banyak hal yang nantinya akan menuntut hal ini. Kita kadangkala justru hanya bisa lari dari masalah, dan mencoba mengambinghitamkan orang lain, kita sibuk menuduh orang-orang lain, kita sibuk menyelamatkan diri sendiri dari semua kesombongan dan kesalahan yang kita punya. Kita tidak pernah atau mungkin susah untuk mau mengakui kesalahan kita masing-masingnya. Lalu, ketika Global Warming ini menjadi issue global yang benar-benar mengglobal. Siapa yang patut kita salahkan? Kitakah? Atau orang-orang lain di negeri ini dan di belahan dunia yang lainnya?
Memang, kalau kita membicarakan siapa yang salah, atau siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab untuk permasalahan lingkungan ini, tidak akan pernah ada habisnya. Tidak akan pernah ada ujungnya. Solusi yang bisa kita lakukan hari ini dan untuk selanjutnya adalah mencoba sekali lagi (toh kita masih punya kesempatan kan) kembali untuk lebih memerhatikan alam dan memerhatikan lingkungan yang ada di sekitar kita, tak perlu jauh-jauh melihat atau mencoba membantu orang-orang yang ada di belahan dunia lain, lihat kampung kita sendiri, lihat desa kita sendiri, lihat daerah kita masing-masing dahulu, lihat dan perbaiki dulu saja, apa yang bisa kita perbaiki langsung tanpa harus bersama-sama orang lain, tak perlulah menunggu orang lain untuk membersihkan “halaman” rumah kita, ketika kita bisa membuat “halaman” rumah kita sendiri bisa menjadi bersih. Dan saya yakin, sebenarnya jika semua orang yang ada di belahan dunia ini mampu dan punya waktu memerhatikan “halaman” rumahnya sendiri, tak akan lagi ada permasalahan lingkungan yang seperti kita hadapi sekarang. Tak akan ada lagi issue Global Warming, polusi udara, dan kebakaran hutan di berbagai Negara dan tempat di dunia ini.
/1/ Save The Earth: Mencoba untuk stay aware (waspada) dengan teknologi
Kita mencintai teknologi tatkala teknologi itu terasa seperti mainan baru, namun kita membencinya begitu mainan itu rusak. Kita menggembar-gemborkan dan mengoceh perihal teknologi yang merasuki kehidupan kita dari berbagai arah. Kita mencintai teknologi tatkala teknologi itu berfungsi. Kita membencinya tatkala teknologi itu tak jelas, bagaikan buku panduan yang tak pernah dibaca. Kita berbicara perihal acara televisi, berbagai peristiwa yang diberitakan media, dan aneka humor Internet, seolah-olah semua itu kisah hidup kita sendiri. Selama ini, ketakutan ataupun kecintaan kita akan teknologi kerap menjadi landasan kisah film yang kita tonton, buku yang kita baca, cerita di majalah, berita utama surat kabar, dan menjadi pemicu bagi perbincangan yang terjadi kemudian.
Pesan iklan yang tercetak, yang tampil di papan iklan maupun televisi sarat dengan janji teknologi. Teknologi tak henti-hentinya menawarkan cara penyelesaian kilat. Teknologi berikrar akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, membuat kita lebih pintar, dan meningkatkan kinerja kita, dan membuat kita bahagia. Teknologi berjanji akan lebih murah dan lebih mudah daripada segala sesuatu yang pernah ada sebelumnya. Teknologi bersumpah akan menyediakan keamanan, stabilitas, privasi, serta kontrol bagi kita dan sekaligus melimpahkan kedamaian pikiran, dan menjaga kita agar terbebas dari rasa cemas. Teknologi berjanji akan menghubungkan kita dengan dunia luar, namun tetap menjaga kita agar tetap dekat dengan sahabat dan keluarga yang kita cintai. Teknologi merekam dan mengingatkan kita tentang saat-saat kehidupan kita yang berharga. Teknologi berjanji menjadi landasan ekonomi dunia yang baru dan penyeimbang yang kuat. Teknologi berjanji akan memberikan kita kekayaan.
Semua janji teknologi itu terdengar bak buluh perindu. Kita dibuat percaya bahwa semua solusi bisa kita peroleh, cukup dengan membelinya dan menggunakannya saja.
Namun, mari kita lihat sisi lain dibalik issue Global Warming sekarang ini :
Teknologi yang kita punya, ternyata tidak benar-benar menampakkan sisi positifnya, kita tahu semua bahan perusak ozon dihasilkan dan ditemukan teknologinya oleh ilmuwan negara maju. Negara-negara maju telah terlalu lama dan besar volumenya menggunakan lebih dahulu produk-produk perusak ozon daripada jumlah yang dihasilkan oleh negara dunia 3 sejak revolusi industri. Termasuk pruk kimia beracun yang sangat mencemari lingkungan. Bahan pengganti atau proses produksi barang yang tidak menghasilkan zat perusak ozon dan ramah lingkungan lebih mahal dari biasanya. Dunia ke 3 membeli bahan ataupun teknologi-teknologi tersebut dari negara maju tentu dengan harga mahal.
Sampai saat ini industri di negara maju masih memproduksi barang-barang yang berpotensi merusak ozon dan lingkungan dalam skala besar untuk pasar dunia 3, tidak untuk dalam negerinya sendiri.
Dunia Negara-negara maju adalah konsumen hutan tropis paling rakus dibanding dunia ke 3 tempat hutan tropis tumbuh. Termasuk juga konsumsi bahan-bakar fosil. Hutan tropis yang makin gundul mempercepat proses pemanasan global dan penipisan ozon. Bahan-bakar fosil juga demikian. Negara penghasil emisi terbesar di dunia yang juga penyeru global warming, sampai saat ini ternyata masih menolak protokol Kyoto yang mengatur jadwal berhentinya produksi bahan atau barang perusak ozon.
Jika diterapkan ecolabeling sebagai standar impor, maka bahan-bahan atau hasil pertanian dari dunia 3 akan kalah bersaing dengan produk dari Negara-negara maju tersebut, alias tidak boleh masuk, alias tidak laku. Negara maju memiliki agenda untuk menjual kelebihan bahan nuklir akibat perang dingin ke dunia ke 3 sebagai ganti penggunaan bahan bakar fosil untuk energi.
Negara dunia 3 (tropis) memiliki sumber alam yang cukup untuk menghasilkan energi selain menggunakan nuklir. Negara dunia 3 sebenarnya memiliki kewenangan untuk menghentikan ekspor kayu demi global warming. Percaya atau tidak, Negara-negara maju akan menandatangani protokol Kyoto jika kompensasi pembelian dan pembangunan PLTN di negara dunia 3 mencukupi kerugian akibat berhentinya industri penghasil bahan perusak ozon.
Kalau disuruh memilih, dengan kondisi hingga sepuluh tahun ke depan, lebih mudah bagi Negara-negara dunia ke 3 untuk kembali saja hidup ke jaman batu daripada hidup modern dengan standar ecolabeling yang sangat mahal. Kecuali Negara-negara maju mau menyisihkan uangnya untuk meng-kompensasi naiknya harga-harga produk yang telah berstandar ecolabeling dibandingkan produk konvensional.
Negara 3 Dunia ke 3 (apalagi yang berada di khatulistiwa) menerima akibat dari Pemanasan Global dan Penipisan Ozon, juga Pencemaran Lingkungan jauh lebih besar dibanding Negara-negara maju. Sedangkan akumulasi ketiga unsur tersebut sebagian besar dihasilkan oleh Negara-negara maju.
Suatu saat limbah nuklir juga akan dibuang di Negara-negara dunia ke 3, jika negosiasi seperti disebutkan di atas (tentang PLTN) disepakati antara Negara-negara maju dan Negara-negara dunia ke 3.
Kalau kita tidak mati karena kanker kulit akibat menipisnya ozon di negeri kita, kita akan tetap kena kanker karena limbah nuklir di tanah dan laut kita. Kalau bukan kita, setidaknya keturunan kita nanti. Sementara penduduk Negara-negara maju hidup tentram dengan sedikit sinar matahari dan limbah nuklir.
Begitulah teknologi informasi dan komunikasi serta kekuatan industri menguasai kita. Rupanya, kehadirannya bukan lagi sekadar mesin dan besi-besi atau bahan lain di industri yang tak bernyawa. Ternyata, ia telah kita berikan nyawa, kita sisipkan ruh dalam jisimnya sebagaimana layaknya manusia. Dan, diam-diam, kita telah menuhankan dia dalam hati kita, di dalam hidup kita. Kita begitu tergantung dengan eksistensi-nya. Padahal asalnya, teknologi sendiri, konon diciptakan untuk memudahkan manusia. Ia adalah seperangkat mesin yang akan melayani dan membantu kehidupan manusia. Namun, dalam kenyataannya, kaidah ini tidak berlaku. Manusia justru menjadi pelayan dan pembantu teknologi. Sesuatu yang dulunya dibuat untuk kita kontrol dalam kehidupan kita, malah berbalik, ia mengontrol dan mendominasi kita.
Karena terbuai oleh kesenangan dan janji-janji teknologi yang begitu menggiurkan, kita tidak mengindahkan berbagai konsekuensi teknologi dan bertanya-tanya mengapa masa depan tampaknya tak dapat diramalkan. Tidak banyak dari kita yang memahami posisi teknologi atau dimana seharusnya teknologi itu berada dalam kehidupan kita, dalam masyarakat kita, dan yang paling fundamental adalah ialah apakah sebenarnya yang dinamakan teknologi itu. Kita memberi teknologi status yang khusus, seolah-olah teknologi itu adalah hukum alam. Kita memberinya hak yang tak dapat dicabut, yang membuat kehidupan kita sehari-hari, pengalaman formatif kita, bahkan dunia alamiah kita, “diatur” oleh peranti lunak yang kian lama kian canggih.
Teknologi melangkah seiring dengan derap langkah ekonomi kita, sementara kita tinggal mencolokkan steker, tersambung on-line, mesin menyala, mulai bekerja, dan akhirnya menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Kita merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun kita pun tidak bisa menunjukkan dengan jelas apa sesungguhnya yang salah. Sebagaimana dikatakan oleh Marshall McLuhan, ia tidak tahu siapa penemu air, tetapi yang pasti bukan ikan. Manakala kita sudah terbenam begitu dalam, sukar bagi kita untuk melihat dimana kita sesungguhnya berada.
Beruntunglah, kita bukan ikan. Ada seniman, teologiwan, ilmuwan, serta anggota dinas militer, antara lain, yang mengakui dan menyatakan terang-terangan bahwa di satu pihak, teknologi memang mendukung dan memperbaiki kehidupan manusia. Akan tetapi, mereka juga memperingatkan bahwa, di pihak lain, teknologi bisa mengucilkan, memencilkan, mengaburkan, dan menghancurkan.
Dengan mewaspadai teknologi, kita dapat mengevaluasi secara jernih relevansi teknologi yang ada sekarang, dan membangun hubungan yang wajar dengannya. Kita dapat mulai mengantisipasi perkembangan teknologi baru dan memperbincangkan terlebih dahulu kebaikan serta konsekuensi penerapannya, dan dengan demikian kita tidak terlalu mencemaskan masa depan.
Kita memasuki dialog tentang teknologi dengan penuh kesadaran dan sikap mau menerima. Kita akan mulai memupuk kekuatan teknologi dan bukan menampiknya (sebagaimana yang dilakukan oleh kaum teknofobia), atau menerimanya secara membabi buta (sebagaimana yang dilakukan oleh kaum teknofilia).
“Sadar”, demikianlah Buddha menjelaskan keadaan dirinya. Dan akan sangat bermanfaat sekali jika kita mau menyadari berbagai konsekuensi teknologi, yang baik maupun yang buruk. Kita tidak boleh memejamkan mata, menutup telinga, atau membungkam dialog, atau terbuai oleh teknologi. Kita mesti mencoba mengarahkan dunia yang berada di masa globalisasi dan modernisasi ini ke arah yang lebih baik lagi. Agar kita bisa dan mampu menjadi seorang yang dapat bertahan, bersaing dengan kerasnya dunia ini, dan bisa memberi dan mengimplementasikan solusi yang tepat tentang lingkungan yang kita hadapi sekarang, dengan seluruh potensi dan kemampuan yang kita miliki. Potensi dan kemampuan untuk mengubah.
/2/ Save The Earth: “Reduce Pollution, Tree Planting, and Save Energy”
Kita bisa menyelematkan bumi ini, kita punya banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya, menurukan kadar polusi, menanam pepohonan (dan tumbuhan lain), dan hemat energi bisa menjadi awal yang baik untuk semua perbaikan yang akan kita sama-sama lakukan. Kita bisa mewujudkan itu, ingat tidak ada yang mustahil apabila kita punya keyakinan yang besar. Dulu, manusia memang hanya bisa bermimpi akan menginjak bulan, tapi sekarang, jangankan menginjak bulan, kita bisa melakukan banyak hal di satelit bumi yang satu ini. Begitu juga dengan permasalahan yang kita hadapi sekarang, Global Warming, kita bisa meminimalisir akibat-akibat Global Warming ini, dan kita juga bisa membuat keadaan lingkungan yang kita tinggali sekarang, menjadi lebih baik. So, lets Save The Earth with Reduce Pollution, Tree Planting, and Save Energy from right now.









